



Pesta acara tujuh belasan di kota Townsville, adalah merupakan acara pesta tahunan yang diadakan oleh masyarakat Indonesia bekerja sama dengan PPIA atau Persatuan Pelajar Indonesia Australia yang rutin diadakan setiap tahun dan yang selalu dinantikan oleh segenap warga Indonesia yang tinggal di Townsville. Karena acara ini juga merupakan pesta tahunan masyarakat Indonesia untuk saling bertemu dan kangen-kangenan sekaligus menikmati lezatnya hidangan nusantara. Mau ketemu onde-onde….jangan worry, opor ayam…jangan worry, sate kambing..jangan worry dan masih banyak lagi, ditanggung bakal membuat lidah bergoyang senang dan puas.
Persiapan acara tujuhbelasan bisanya dilakukan menjelang dua bulan sebelum hari H nya dan dalam waktu itu pulalah para warga sibuk membentuk panitia dan tetek bengeknya dan lebih seru lagi kaum ibu-ibunya karena acara tujuh belasan juga merupakan arena unjuk diri untuk tampil secantik-cantiknya. Tampil dengan dandanan ala nusantara.
Acara tujuh belasan kali ini diadakan di sebuah taman di ujung kota Townsville yang bernama Riverway Park dan berlangsung pada tanggal 5 July 2008 jam sebelas sampai selesai. Pilihan venue yang tepat mengingat tempat yang sangat luas dengan fasilitas lengkap dan memadai. Selain ada gedung theatre, hall, meeting room, taman menghijau lengkap dengan rumput tebal yang bisa bergoyang diterpa angin semilir, toilet yang banyak dan super bersih dan wangi, arena parkir yang luas, canteen dan juga kolam renang. Lokasi taman tersebut juga berada di tepi sungai Ross River, satu-satunya sungai yang membelah kota Townsville, yang airnya sangat biru dan jernih. Pohon-pohon besar menambah keteduhan tempat. Burung-burung berterbangan rendah bergumul mesra dengan manusia.

Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, yang hanya acara upacara dan resepsi acara merayakan kemerdekaan Indonesia, kali ini juga untuk memperkenalkan budaya masyarakat Indonesia pada umunya kepada masyarakat Australia dalam bentuk festival, dengan harapan akan menarik minat warga setempat untuk lebih mengenal budaya dan kekayaan makanan Indonesia. Dan acara kali ini yang diberi nama Indonesian Festival, yang juga sekaligus merayakan acara kemerdekaan RI yang diadakan jauh lebih dini dari biasanya mengingat ada beberapa pelajar yang akan kembali ke Indonesia. Selain acara rutin, akan dipamerkan juga hasil kerajian dan pakaian daerah di stall khusus dan juga acara food fair yang bertujuan mengenalkan aneka masakan nusantara.
Satu setengah bulan menjelang acara, kami panitia rapat sana-rapat sini untuk meng-goalkan acara dan berkat usaha keras dari panitia dan dukungan beberapa masyarakat Indonesia di Townsville, acara Indofest cukup berhasil dalam pelaksanaannya, walau boleh dibilang kurang mampu menarik masyarakat sekitar ataupun masyarakat Indonesia untuk membanjiri acara Indofest. Berhasil ditinjau dari segi acara dan hiburan, namun gagal dalam menjaring minat masyarakat. Praktis acara nampak sepi jika dibandingkan dengan acara-acara serupa seperti misalnya Greek Festival atau Italian Festival yang selalu dibanjiri pengunjung. Hal ini dikarenakan disamping nama Indonesia tidaklah sepopuler nama seperti masyarakat Greek atau Italy misalnya, juga kurangnya publikasi dan sedikitnya masyarakat Indonesia di Townsville yang berpartisipasi secara langsung.

Para ibu jauh-jauh hari sudah mempersiapkan acara untuk unjuk diri, tampil dengan busana terbaik ataupun busana yang mewakili budaya Indonesia karena memang direkomendasikan supaya tampil nasionalis, sementara para bapaknya baik yang bapak bule atau bukan bule kalau bisa memakai batik. Seperti tahun-tahun sebelumnya, biasanya berbulan-bulan sebelum hari H, kita para ibu-ibu sudah kasak-kusuk mengenai baju apa yang akan dikenakanan di acara pesta bangsa ini. Termasuk aku tentu saja.
Aku sendiri sebagai orang Jawa memilih memakai baju batik dan kebaya, dan para ibu-ibu lain juga mengenakan pakaian adat maupun kebaya. Untunglah suamiku berkenan memakai baju batik yang kami sengaja beli tahun lalu ketika berkunjung ke Indonesia. Aku sendiri setelah cukup lama keliling toko baju, akhirnya menemukan baju atasan seperti model kebaya yang kuanggap lumayan cocok dengan kain batik yang akan aku kenakan.
Hari yang ditunggu-tunggu tiba, tanggal 5 July, agenda pertama : bangun pagi selesai beres-beres, masak sarapan, dan barulah ritual menghias diri dimulai, kebetulan salah seorang teman deket (sebut saja D) yang minta tolong make up sama aku, walau aku bukan orang salon namun karena gemar berdandan, maka sang beliau percaya untuk merias wajahnya yang manis dan pasrah total dengan keahlianku yang asal jadi. Untunglah hasilnya lumayan sehingga wajahnya yang maniz makin mengkilat. Tentang diriku; malang tak dapat ditolak, aku tiba-tiba bersin-bersin dan hidung meler….suara menjadi parau , kepala agak berat..waaaah gawat nih, wong mau tampil cantik kok malah teler begini…padahal tadi bangun tidur sehat-sehat saja, memang sih acara hidung meler dan bersin-bersin ini sangat sering hinggap di tubuh ini, bisa dikata seminggu sekali pasti menyerang, semacam alergi entah alergi apa, cuma yang aku sesalkan kenapa harus hari yang bersejarah ini…?
Duuuuuuuuhhhhh…. tentu saja I wasn’t expecting kalau di pagi yang cerah ini ujug-ujug alergi muncul…eeeeeeee lhadalah…..pipi sudah muluz…bibir sudah digincu…mata sudah dikasih mascara dan sudah lenggok-lenggok di depan cermin…dan ujung-ujung acara bersin dan hidung meler destroyed everything, terpaksa bedak dipertebal, bibir digincu ulang dan sebagianya. Double job. Tambahan job : aku harus pula menyediakan segepok tissue di hand bag ku yang mungil.

Jam setengah sepuluh si D yang kebetulan tinggal tidak jauh dari tempatku tinggal sudah datang, dan akupun segera mulai melukis wajahnya, Haaaaaaaatsyiiiiiii… nah acara bersin-bersin pun semakin kenceng dan rapid, untunglah aku sendiri sudah selesai dandan tinggal memakai baju. Acara lukis melukis wajah sambil terus ber-hatsyiiiiiiiii-hatsyiiiiii dan hidung terus meler…duuuuuuuuuuuuh gawat…baru membuat alis si D, halted sebentar untuk bersin, terpaksa berhenti, parahnya bersinnya tidak cuma sekali terus selesai, tetapi on one go bisa tiga sampai lima kali..weeeeeeeee ..akhirnya atas anjuran si D aku menelan dua tablet anti flu…berharap akan sedikit membaik. Eventually acara poles memoles dan memakai baju selesai walau diselengin intermezo bersin-bersin. Kupatut-patutkan diri di depan sang cermin..for the last minutes before we left, wowwwww lumayanlah…tidak begitu mengecewakan hasilnya. Si D puas, akupun puas. Dan kamipun siap meluncur lengkap dengan suami masing-masing yang nampak gagah dengan baju batiknya, untunglah kali ini si Mister Paijoku tidak banyak protes disuruh sang istri memakai baju batik dan bersedia kudandani, alias maaf mas..kali ini dirimu harus nurut sang istri…biar kelihatan ganteng… dan wuuuuuuuuuuuzzzzz kami berempat dengan dua mobi ber-iringan, aku dan suami dan si D di mobil lain dengan sang suami, meninggalkan rumah menuju lokasi.
Driving kira-kira 15 sampai 20 menit, kami sampai di lokasi, angin winter semilir sedikit menusuk tulang tidak mampu membunuh euforia yang aku rasakan. hati kian membumbung seolah berkata kepada dunia look- at -me dan menebar senyum penuh makna -I-am-beautiful, aren’t I- look typikal seorang narsis khas Reef. Dengan jalan agak berjingkat-jingkat sok dianggun-anggunkan, berhubung sedang memakai high heel yang benar-benar ‘high’ aku melangkah sok gemulai sambil menggandeng si kangmas sok kelihatan mesra menuju area yang ternyata masih nampak sepi, padahal jam sudah menunjukkan angka sebelas, yang seharusnya merupakan acara dimulainya Indofest, namun hampir dua pertiga kursi yang disediakan masih kosong. Kemana orang-orangnya…?? yang nampak hadir cuma beberapa gelintir tamu dan panitia doang. Wah..semangat langsung gembozzzzzzz…bozzzzzzzz padahal target panitia at least dua ratus orang kan hadir..walaah…. lha ini…limapuluh saja belum genap. Terpaksa kita pada ngrumpi sendiri-sendiri.
Kira-kira jam 11.30 waktu setempat, tamu undangan telah tiba yaitu bapak walikota Townsville beserta istri dan beberapa undangan perwakilan dari Konsulat General dari Sydney dan perwakilan Duta Besar Indonesia Canberra. Tamu dari Konsulat ini memang diundang disamping untuk memeriahkan acara juga untuk memberikan layanan masyarakat Indonesia yang berdomisili di Townsville, tentang apa saja yang berkaitan dengan imigrasi atau visa. Tak beberapa lama kemudian, berhubung tamu undangan telah hadir, acara tidak dapat ditunda lagi maka walau tamu masih sepertiga, acara dimulai.

Acara pembukaan diawali dengan tarian dari daerah Aceh yang dibawakan dengan apik oleh Any, Dian dan Lita, yang dikombinasikan dengan tarian rakyat Aborigin, menarik sekali sayang tidak banyak penontonnya. Setelah acara tarian dan beberapa sambutan dari pihak panitia, dan bapak walikota Townsville, acara disambung dengan menyanyikan lagi kebangsaan Indonesia Raya…yang ditanggapin dengan adem ayem, hanya satu dua suara yang muncul, sang dirigen harus mengulangi beberapa kali ambil suara sampai terdengar agak kompak….sementara aku yang masih bersin-bersin turut juga menyanyi..mencoba berpartisipasi.
“Indonesiaaaaaaaaaaaaaa…Hatsyiiiiiiiiiiiiiiiiiii….hatsyiiiiiiiiiiiiiiii…” diam sebentar. Beberapa kepala menoleh mencari asal suara. Aku pura-pura bego.
“…….tanah airku…haaatsyiiiiiiiiiii…hatsyiiiiiiiiiiiiiii……” diam lagi..kembali beberapa kepala menoleh mencari asal bunyi yang mengganggu. Aku pura-pura bego. Si Mister Paijo buru-buru mengulurkan segepok tissue karena saat bersin tersebut, cairan bening juga keluar dari hidungku, buru-buru me-lap hidung sekaligus menghancurkan polesan lipstik di bibir. Buru-buru pula mulut ini ikut mangap meneruskan menyanyi,
“…..tanah tumpah darahku…hatsyiiiiiiiiiiii..hatsyiiiii …..” kali ini lebih panjang dan kenceng…kembali beberapa kepala menoleh. Aku tahu diri, in the end, I just gave up singing.
Lagu kebangsaan berkumandang sangat lirih nyaris tidak terdengar, maklum yang datang baru beberapa orang walau dari beberapa orang tersebut membawa anak dan suami, namun karena rata-rata bapak-bapak berbaju batik tersebut berambut blode dan bermata biru yah maklum saja jika tidak terdengar suaranya. Barulah setelah lagu Nasional selesai dilanjut dengan lagu Australian fair..suara terdengar lantang dan sedikit gemuruh..lagi-lagi maklum soalnya yang hadir pas acara pembukaan ini kebanyakan orang bule dan beberapa orang Phipilina dan India.
Acara Indofest kali ini selain menampilkan tari-tarian dan lagu Indonesia juga menampilkan tarian rakyat Philipina yang merupakan tamu undangan. Ironisnya, semakin siang semakin banyak orang Philipina yang datang dan orang Indonesia jauh lebih sedikit dari mereka. Kemana orang-orang Indonesia…? hampir separo dari resident tidak hadir sementara beberapa student juga berhalangan hadir. Selain menampilkan beberapa tarian dari berbagai daerah Indonesia seperti Padang, Aceh, Bali, Betawi, dan Jawa Barat yang sebagian besar hanya ditampilkan oleh dua orang saja yang sigap berganti-ganti kostum dalam hitungan menit, acara foodfair yang direnacankan akan menjual aneka masakan nusantara, ternyata ‘hanya’ menampilkan empat macam makanan saja…!
Terbatasnya jenis makanan berhubungan terbenturnya masalah prosedur per-izinan yang berkiatan dengan food handling yang mana di Australia memamg njlimet. Kita harus mempunyai ijin resmi dan sertifikat dari Departemen Kesehatan jika ingin menjual makanan untuk umum. Dan karena tanggung jawab yang cukup besar atas resiko yang akan diterima jika kita menjual makanan tidak sesuai dengan prosedur yang disyaratkan DepKes, banyak yang tidak bersedia untuk memasak ataupun menjual makanan. Dan berhubung satu dan lain hal masalah food fair masih akan tetap dilaksanakan dengan minta tolong salah seorang resident yang kebetulan mempunyai usaha bisnis cafe untuk mewakili.
Acara food fair yang direncanakan sebagai ajang memamerkan masakan dan jajanan khas Indonesia seperti onde-onde, sate, lemper, lumpia, rendang, nasi goreng, mie goreng dan lain-lain, menjadi batal dan terakhir yang nongol hanya empat macam yaitu : rendang, mie goreng, cap jay dan nasi goreng. Selain tamu undangan, kita yang hadir harus membeli makanan dan minuman. Berhubung dana yang tidak memadai, makanan yang dijual di food fairpun sangat terbatas, masing-masing hanya satu tray…dan untuk menuntup dana, terpaksa makanan satu porsi kecil dijual dengan harga tinggi, 6 dollar untuk seporci mini. Untunglah dagangan ludes terutama nasi goreng dan rendangnya. Karena kebanyakan yang hadir adalah orang Philipina yang selera lidahnya hampir sama dengan orang Indonesia, maka dalam waktu singkat ludeslah nasi goreng, beberapa bule juga asyik menikmati nasi goreng plus rendang.
Sambil menikmati makan siang, acara hiburan masih terus berlangsung, ada pak Bambang yang memamerkan suaranya yang merdu lewat lagu-lagu kenangan termausk lagu keroncong yang beken Aryati, ada juga ibu-ibu paduan suara yang dipimpin oleh mbak Johana yang pinter gitar menyanyikan lagu-lagu daerah dan nasional, kemudian beberapa tarian dari Philipina, dan beberapa tarian daerah Indonesia dan Aborigin. Sementara itu hadirin juga membentuk kelompok sendiri-sendiri untuk saling catch up dan nampak kelihatan jauh lebih asyik ngerumpi sesama daripada menikmati acara.

Acara yang sebenarnya dijadwalkan sampai jam empat sore, ternyata pukul 2 lebih sedikit para hadirin sudah banyak yang membubarkan diri. Praktis setelah makan siang, tamu undangan termasuk Bapak Walikota meninggalkan tempat diiukuti para undangan lain dan juga kita-kita. Kira-kira jam 2.30 aku dan suami juga meninggalakan tempat, tidak lupa juga ber-hai-hai dan cipika cipiki dengan para ibu-ibu yang pada hari itu memang kelihatan cantik-cantik dan anggun dan tentu saja potret sana sini.
Kira-kira jam tiga sore, hatsyiiiiiiiiiiiii…hatsyiiiiiiiiiiiii….hatsyiiiiiiiiiii kami sudah berada di istana kami, farewell Indofest and see you later next year ….. hatsyiiiiiiiiiiii… hatsyiiiiiiiiiiiiiiii… hatsyiiiiiiiiiii…..here we go again…”Pass me the tissue pleaseeeeeeeeeeee..!”
Salam manis,
Reef Australia.